Sekilas Info

Makam Dengan Batu Nisan Mirip Era Kesultanan Hebohkan Masyarakat Aceh Barat

Masyarakat berfoto di lokasi kuburan dengan nisan corak khas masa era Kesultanan Aceh.

JAB | ACEH BARAT – Masyarakat Gampong Rambong, Kecamatan Bubon, Kabupaten Aceh Barat, berbondong membersihkan makam dengan Batu Nisan setinggi hampir mencapai 1 meter bercorak khas, disebut sebut masih memiliki kaitan erat dengan kuburan era kesultanan atau kerajaan Aceh tempo dulu, karena serupa dan usia yang disinyalir sudah mencapai ratusan tahun.

Makam yang tak diketahui pemiliknya itu sudah cukup lama diketahui masyarakat setempat, bahkan sudah ada sebelum Gampong Rambong resmi tercatat sebagai pemukiman penduduk. DUlunya, lokasi kuburan itu adalah hutan yang kerap digunakan untuk aktivitas religius seperti tolak bala (Agar Tidak Terkena Musibah) dalam budaya Aceh.

Penelusuran yang dilakukan media ini melalui Foto Search salah satu fasilitas yang disediakan oleh layanan google, beberapa gambar serupa yang muncul dari hasil pencarian, memiliki kemiripan dengan Batu Nisan Makam Kandang XII Aceh, Berbentuk Mahkota atau tanduk, dengan pola hiasan Kaligrafi Arab dan Flora.

Pemuda gampong setempat, Bustami mengatakan, warga disana sudah sangat lama mengetahui makam dengan nisan khusus ini, mereka meyakini disana telah disemayamkan jasad pemuka agama tempo dulu yang cukup berpengaruh, namun tidak diketahui identitas aslinya, sebab minimnya informasi dari tetua yang sudah lebih dulu menetap di kawasan itu. Selain nisan yang hampir mencapai satu meter, ada pula makam lainnya dengan batu nisan lebih pendek, namun bercorak sama.

“Ada dua, satu lagi tidak panjang, kalau satu lagi pendek tapi tetap memiliki lukisan corak demikian. Kalau tingginya itu melewati pinggang orang dewasa, memang dulu itu menjadi dasar Gampong Rambong, zaman dulu tidak ada jalan, kita belum tahu asal usul makam ini, tidak tahu dari mana. Kalau tahunya sudah dari dulu ada makam itu, sebelum adanya gampong Rambong,” jelas Bustami, Senin (1/5/2023).

Dikatakannya, kuburan dengan nisan tersebut ditemui tanpa adanya dinding pembatas layaknya kuburan pada umumnya, hanya nisa yang menandakan kepala serta kaki kuburan. Karena sudah lama tak dikunjungi para santri asal gampong setempat lantas berinisiatif Bersama aparat desa serta warga untuk membersihkan makam yang sudah berada dalam perkebunan sawit.

Mulanya, kata Bustami, makam itu berada dalam semak belukar, sehingga pemilik lahan lantas menggarapnya untuk dijadikan kebun. Sebelum dijadikan lahan perkebunan, masyarakat setempat dari daerah lain kerap mendatangi makam untuk sekedar berziarah, kenduri serta melepas nazar.

“Kebun sawit itu baru, dulu semak, sekarang baru ditanami sawit, semenjaa ada kebun tidak ada lagi orang pergi kenduri ke sana, seperti tolak bala. Itu terletak di ujung Gampong Rambong (lokasi makam), tidak ada dinding, cuma ada kuburan, kuburan itu dibersihkan oleh para santri karena sudah tumbang menutupi kuburan, kuburan ini memang tidak ada pondasi, cuma ada nisan saja,” sebutnya.

Saat ini, keberadaan makam tersebut cukup mencuri perhatian, meski masih minimnya informasi akan identitas jasad yang bersemayam di sana. Karena batu nisan yang langka atau memiliki kemiripan dengan kuburan yang ada di era kesultanan. Bahkan tak sedikit yang mengaitkan keberadaannya dengan Kerajaan Bubon yang masanya dipimpin oleh Ulee Balang.

Keuchik (Kepala Desa) Gampong Rambong, Jufrizal mengatakan, adanya makam kuno itu memang sudah ada sejak lama, hanya saja tidak ada literasi atau naskah yang menerangkan pemilik makam atau identitas jasad yang dikuburkan di sana. Namun, masyarakat percaya itu adalah makam tokoh penting pada era zaman dulu.

“Memang tidak tahu, memang orang tua yang sudah meninggal di desa kita tidak tahu, sudah lama sejak awal dulu menjadi dasar adanya Gampong Rambong, warga memang bergotong royong membersihkan makam ini, karena kemarin sempat tertimpa kayu dan sudah dibersihkan lagi,” tandasnya.